Labels

User online :


telah dibaca :


Rabu, Agustus 12, 2009

MANAJEMEN BATIN

Mencetak peminpin andal adalah tantangan di setiap Organisasi, bahkan di tingkat Negara. Begitu besar harapan dan kompleksnya tuntunan yang diletakkan di bahu seorang peminpin, sehingga program pemgembangan kepeminpinan yang didesain paling canggih pun mustahil di garap secara instant. Ya, mau tidak mau, peminpin memang harus siap dan terbuka untu dipoles dan memoles dirinya “luar-dalam”. Harus siap untuk erkeringat. Seperti halnya para calon perwira yang musti selalu siap menjalani “kawah candradimuka” satu ke yang lainnya, diterjunkan keberbagai Medan dan tantangn, dalam kurun waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan.
Dalam suatu latihan kepeminpinan, saya memperhatikan seseorang yang yang tampak tidak segera mendapatkan manfaatnya. Teman kita ini cepat memahami aturan main, patuh pada instruksi dan sepintas lalu tidak melihat menonjol, baik pemberontakannya maupun perubahannya. Namun, dalam dirinya tampak tidak terlihat upaya untuk mempertanyakan, mengolah pertentangan, menggarap dilemma kerja tim maupun mencerap doktrin. Sementara teman-temannya “menikmati” refleksi diri dan secara serius mengolah berbagai proses batin yang terasa, baginya semua ini hanya bagaikan angin lewat saja. Tentu saja ini adalah waste besar, bila sebuah pelatihan yang dijalani tidak dipandang dan diolah dengan sunguh-sungguh. Bagaimana mingkin individu bias jadi meminpin andal tanpa upaya untul betul-betul menggarap aspek-aspek batin dalam dirinya? Bukankah tantangan terbesar peminpin bukan ujian terhadap pengetahuan atau knowledge-nya, namn justru dating dari kehebatannya, dalam mengelola aspek emosi dan psikologi diri dan timnya?

Kembali Pada Diri Sendiri

Kita lihat banyak peminpin yang cepat naik darah, tidak bias menahan emosi kita juga bisa memahami betapa situasi terjepit ataupun krisis seperti yang kita hadapi ini membutuhkan ketahanan dan ketekunan. Hanya orang-orang yang optimis yang mampu menghadapi turbulensi politik, ekonomi, dan social di masa sekarang ini. Dilain pihak, penyeimbangan antaraoptimesme dan realitas ini memang bukan hal yang mudah. Tidak selamanya seorang peminpin berani membuka “Brutal Facts” dan realitas buruk kepada anak buahnya karena tidak ingin merasa pesimis dan turun semangat, bahkan balik badan meninggalkan dirinya yang sedang kepayahan.
Seorang peminpin memang teruji dan diuji dari situasi yang menempatkannya pada posisi maju-kena mundur-kena, terjepit antara kesempatan dan keterbatasan. Inilah sebabnya banyak juga kita temui peminpin yang plin-plan, tidak bias mengambil keputusan atau menentukan arah yang jelas, bahkan tidak jarang terkesan pengecut. Pertanyaannya, dalam menghadapi situasi sulit ini, pada siapa seorang pemimpin bersandar? Pada siapa pemimpin belajar? Pada siapa ia bertumpu? Tentu saja, ia musti kembali pada dirinya sendiri. Jelas, bila dalam diri seorang pemimpin tidak terjadi pengolahan batin yang yang intensif, segala pengetahuan, keahlian bahkan karisma yang dimilikinya, pada suatu saat bias jadi sumber daya yang usang.

Membangun Keberanian Moral
“Drive”, energi, keterarahan, disiplin diri,”will power” serta kekuatan saraf perlu ditempa, dilatih dan ditingkatkan. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya bila seseorang tiba-tiba diposisikan sebagai pemimpin, dituntut untuk mempraktikkan pengambilan keputusan dan pemberian arah yang jelas, sementara ia tidak memiliki dan tidak mengasah kualitas-kualitas batinnya dengan sungguh-sungguh.seorang ahli manajemen mengungkapkan :”Courage-not complacency-is our need today. Leadership not salesmanship.” Tidak heran pasuka-pasukan khusus yang melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa berlatih berjalan kaki sejauh 600 km dan menyebrangi selat sunda. Hanya dengan ketahanan fisik dan mental seperti ini jiwa berani, tidak kenal lelah dan kekuatan menghadapi segala kemungkinan bisa tumbuh.
Latihan kepemimpinan yang melelahkan, menekan moral bahkan kadang membosankan, sebenarnya membawa individu kepada “moral courage” untuk menghadapi manusia, anak buahnya. Hanya dengan keberanian moral,seorang pemimpin bisa bergerak dari otoritas formalnya, menuju yang lebih informal seperti membangun collective intelligence,lalu memobilisasi anggota tim untuk memecahkan masalah dan tidak mengandalkan instruksi dari atas saja. Fleksibilitas dan kesejaran ini hanya bias diterapkan oleh pemimpin yang sudah “lulus” berlatih mental. “leadership success is a marathon, not a sprint.”

Pentingnya Melihat Ke Dalam Diri
Latihan kepeminpinan yang keras, penuh deraan baik fisik dan mental, sebenarnya tidak jauh dari dorongan pada individu untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Bila seorang pemimpin bisa melihat ke dalam dirinya, barulah ia bias mereflleksikan penegtahuan kemanusiaan kepada orang lain. Orang yang tidak memulai dari diri sendiri akan tampil sebagai pemimpin yang tidak peka,”sensing” sering meleset, terutama karena ia tidak mengenal contoh manusia yang paling dekat, yaitu dirinya sendiri.
Sebagai pemimpin, individu perlu memikirkan strategi bagaimana mengendalikanpikiran pribadi dan emosinya. Salah satu caranya adalah dengan secara sadar mengembangkan “inner dialogue” yang jujur dan terbuka dengan dirinya. Misalnya saja, bertanya pada diri sendiri, “apakah saya menuntut terlalu banyak? Apakah usaha yang terlalu keras ini akan menjadi boomerang? Apakah nada bicara saya memotivasi atua justru menjatuhkan mental anak buah?” Hanya dengan keterbukaan dan kejujuran pada diri sendiri, seorang pemimpin mampu mengembangkan passion pada kelompok, tanpa kehilangan sisi manusiawinya. Hanya dengan kepekaan yang kuatlah , arahan dan instruksi seorang pemimpin akan lebih “make sense”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar




Komentar Online :